Insiyah menunjukkan tambahan ikan segar yang diterima dalam pencairan BPNT miliknya / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Insiyah menunjukkan tambahan ikan segar yang diterima dalam pencairan BPNT miliknya / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Pembagian bantuan pangan non-tunai (BPNT) di seluruh Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, sebelumnya ditangani badan usaha milik desa (BUMDesa) dalam suplai barangnya.

Namun, ada satu agen E-warung yang bertahan dengan aturan pemerintah melalui tim koordinasi bansos pangan. E-warung Arbai yang merupakan agen di Desa Sobontoro, Selasa (20/05/2020), tampak diserbu puluhan keluarga penerima manfaat (KPM) untuk pencairan BPNT.

Baca Juga : AKD Ungkap KPM Tulungagung Ambil BPNT di Trenggalek, Sebut Barang Lebih Layak

"Senang sekali. Jika sebelumnya tidak ada ikannya, kini sudah ditambah ikan. Tinggal masak," kata Insiyah, salah satu KPM saat mengambil barang di lokasi.

Tangan Insiyah tampak membawa satu karung beras premium seberat 12,5 kilogram, telur 22 butir, dan ikan segar jenis patin tanpa tulang siap saji seberat 9 ons. "Beras kotak (FortiVit) yang biasanya diberikan tidak ada," lanjutnya.

Pemilik E-warung, Arbai mengatakan, pencairan kali ini berbeda dengan yang dilakukan pada bulan sebelumnya. Menurut dia, para agen E-warung harus diuji keberaniannya karena banyak tekanan dari para kepala desa di hampir semua desa di Kecamatan Boyolangu.

"Saya tetap memilih yang tidak melanggar aturan. Teman-teman agen lain bingung dan akhirnya harus menuruti kemauan masing-masing kepala desanya. Saya tidak. Saya memilih kebijakan yang berdasar aturan," ucap Arbai.

Bagi Arbai, meski telah diundang dan diajak bergabung dengan agen lain yang sepakat dengan BUMDesa, dia tidak terpengaruh untuk menuruti kemauan kepala desa yang tergabung adakan AKD (Asosiasi Kepala Desa) Kecamatan Boyolangu.

"Saya tidak mau. Saya tetap minta dan izin kepada kades Sobontoro untuk tidak menuruti kemauan kades dan agen lain yang dipaksa ikut suplayer BUMDes," tandasnya.

Dengan perubahan beras FortiVit ke ikan patin segar siap masak, Arbai yakin jika barang yang diperoleh KPM saat ini sudah kompetitif dengan barang yang di dapat dari agen yang disuplai BUMDesa.

Jika dikalkulasi dengan nilai uang, kali ini KPM memperoleh barang seharga beras premium 12,5 kilogram dengan harga eceran 12.000 rupiah atau setara 150 ribu (HET per kilogram 12.800 rupiah dari Bulog), telur 22 butir seharga 30 ribu rupiah, dan ikan segar seberat 9 ons seharga 20 ribu rupiah atau total jumlah nilai 200 ribu rupiah.

Baca Juga : Warga Jombang Berprofesi Ojol di Surabaya Dinyatakan Positif Covid-19

Untuk diketahui, barang yang didapat KPM dari agen yang disuplai BUMDes kalkulasinya adalah beras medium seberat 15 kg (HET beras medium 9.450 rupiah) atau seharga 141.750 rupiah. Kemudian telur 25 butir dengan harga 33.250 rupiah dan sisa uang 25 ribu diberi ikan segar gurami siap masak seberat 7 ons, sehingga total senilai 200 ribu rupiah.

Perbedaan yang dapat dilihat dari pilihan beras premium dan medium. Jika memilih premium, maka berat beras 12,5 kilogram seharga 150.000 rupiah. Namun, jika memilih medium, beras yang diperoleh 15 kilogram dengan nilai 141.750 rupiah.

Untuk telur cenderung sama. Meski mendapat 25 butir, agen yang mengambil barang dari BUMDes mematok harga 33.250 rupiah. Sementara yang mengambil dari agen resmi Tikor Bansos pangan, jumlahnya telur 22 butir namun dihargai 30 ribu rupiah.

Yang menarik, sama-sama ikan segar yang diperoleh KPM. Jika ikan siap masak diperoleh dari suplayer BUMDesa 7 ons senilai 25 ribu rupiah jenis gurami. Sedangkan ikan dari suplayer Tikor Bansos pangan adalah ikan siap masak 9 ons dihargai hanya 20 ribu rupiah.