Kapolres saat menasihati tersangka pelemparan batu di Kecamatan Bandung. ( foto : Joko Pramono/jatim Times)
Kapolres saat menasihati tersangka pelemparan batu di Kecamatan Bandung. ( foto : Joko Pramono/jatim Times)

Tersangka pelemparan batu terhadap rombongan penonton yang baru saja melihat acara yang digelar salah satu stasiun televisi swasta nasional telah diamankan oleh Satreskrim Polres Tulungagung. Setidaknya ada empat tersangka yang telah digelandang  pihak berwajib dalam kasus pelemparan batu yang mengakibatkan 2 orang terluka serius itu.

Penyerangan dilakukan oleh oknum salah satu perguruan silat. Korban sendiri saat melintas di wilayah Desa Nggandong, Kecamatan Bandung, mengunakan atribut perguruan silat lainya.

“Antara perguruan ini memang ada miskomunikasi. Tapi ini bukan masalah perguruanya. Ini lebih ke oknumnya saja,” ujar Kapolres Tulungagung AKBP E.G. Pandia, Selasa (10/2/20).

Padahal rombongan penonton itu saat melintas di Desa Nggandong sudah dikawal oleh pihak kepolisian. Naas, kedua korban tertinggal dari rombongan lantaran mengalami kebocoran ban.

Saat jalan sendirian itulah, korban disergap dengan cara dilempari batu oleh pelaku yang diperkirakan mencapai 10 orang. Korban yang bernama M. Soli Adi Gunawan, warga  Desa Wates Kroyo, Kecamatan Besuki, bahkan mengalami luka serius di bagian kepala dan patah pada bagian tangan. Darah bercucuran dari kepalanya hingga korban tak sadarkan diri di perjalanan.

Kejadian serupa juga menimpa Bemby Rohmah Anggrensiani, warga Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Bemby yang saat itu melintas bersama suaminya di sekitar balai desa Nggandong  juga dilempari batu oleh setidaknya 10 orang tak dikenal. Naas, batu itu mengenai pelipis korban hingga mengeluarkan darah dan korban terjatuh dari sepeda motornya.

Suami korban yang berniat menolong sempat akan diserang oleh kelompok tak dikenal itu. Namun hal itu dihalau oleh warga sekitar yang berniat menolong korban sehingga pelaku kabur.

“Karena merasa kelompok yang lewat ini adalah lawan dari kelompok mereka , maka dilemparlah (batu) oleh kelompok mereka,” terang kapolres.

Hingga kini polisi masih mendalami motif dari kejadian ini. Disinggung adakah sentimen antarperguruan silat dalam kejadian ini, kapolres mengatakan masih menyelidikinya. “Masih kami dalami,” jawabnya singkat. Namun, menurut kapolres, kejadian merupakan aksi spontan. 

Lantaran sudah acap kali terjadi keributan yang melibutkan kelompok perguruan silat, polisi akan menindak tegas siapa pun yang terlibat keributan itu. “Kami tidak akan berkompromi. Kalau mereka bertindak premanisme, akan kami tindak,” tandas kapolres.

Dalam kejadian ini, diperiksa 15 saksi. Dari keterangan 15 saksi itu, sementara mengerucut kepada 4 tersangka dan kemungkinan besar akan bertambah. Keempatnya adalah HK (25), FE (23), AR (20) dan FR (20). Semuanya warga Nggandong, Kecamatan Bandung, dan merupakan anggota perguruan silat.

Sayang, saat anggota perguruan itu melakukan aksi premanisme atau keributan, pihak perguruan silat terkesan cuci tangan. Mereka mengatakan mereka adalah oknum dan bukan mewakili perguruan silat.

Padahal dalam kesepakatan antara Forkopimda Tulungagung dan perguruan silat, saat ada anggota perguruan silat yang melakukan tindak pidana, maka yang bertanggung jawab adalah pengurus perguruan silat itu.

“Tidak lepas tangan. Mereka (perguruan silat) bersikap kooperatif, tetapi proses akan diproses sesuai aturan,” kata kapolres.

Saat disinggung kesepakatan di atas, kapolres menjelaskan jika hal itu berlaku saat adanya kegiatan perguruan silat seperti latihan. Di luar itu, segala bentuk keributan yang dilakukan oleh anggota perguruan silat bukan tanggung jawa organisasi atau perguruan.

Keempat tersangka diancam dengan Pasal 170 KUHP. Ancaman hukumannya 9 tahun penjara.