Asper BKPH Tulungagung KPH Kediri, Appanuddin (Foto: Anang Basso/ TulungagungTIMES)
Asper BKPH Tulungagung KPH Kediri, Appanuddin (Foto: Anang Basso/ TulungagungTIMES)

Bukan hanya memberi perintah, Appanudin (45) Asisten Perhutani (Asper) BKPH Tulungagung KPH Kediri tampak memberi contoh dengan membuat lubang tempat penanaman pohon di wilayah yang dijadikan kegiatan reboisasi. 

Kegiatan yang berada di Hutan Lindung Gondang Gunung itu, Appanudin bersama petugas Perhutani dan puluhan anggota Forum Komunikasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Muspika melakukan aksi tanam (penghijauan) dengan tema Sinergi Dalam Kelestarian.

Pria asli Pekanbaru Riau ini, di tengah kegiatan tetap ramah menyambut kehadiran TulungagungTIMES untuk memberikan waktu wawancara terkait kegiatan reboisasi yang dilaksanakan.

"Ini kita laksanakan sejak sekitar jam 6.00 wib pagi tadi, Alhamdulillah menjelang siang penanaman sudah selesai," ujar Appanuddin, Minggu (12/01) siang.

Dengan menggunakan kaos biru bertulis Save Our Forest (Selamatkan Hutan Kita) dan memakai topi koploh dan sepatu boots, Appanuddin tampak lega telah melakukan upaya penghijauan di awal musim hujan tahun 2020 ini.

"Kegiatan ini merupakan yang ke 11, setahun yang lalu atau tepatnya tahun 2019 kita melaksanakan 10 kali kegiatan penghijauan seperti hari ini," jelasnya.

Reboisasi yang dilaksanakan pihak Perhutani bersama dengan 26 LMDH yang merupakan mitra BKPH Tulungagung KPH Kediri, bagi pria yang berdomisili di Nganjuk ini merupakan bentuk komunikasi dan kerjasama dengan masyarakat sekitar hutan di bawah wilayah kerjanya.

"Kita apresiasi kerjasama dengan LMDH ini karena mampu melaksanakan pengolahan kawasan hutan dengan baik," kata Appanuddin.

Dalam reboisasi, proses tanam merupakan satu diantara rangkaian penting yang tidak mudah dilaksanakan. Menurut Appanuddin, Perhutani bersama LMDH selama ini selain intensif berkomunikasi juga melakukan kerjasama mulai dari pembibitan, penanaman, produksi dan pengamanan wilayah hutan.

"Di sini baik LMDH dan masyarakat sekitar sangat peduli dengan lingkungan di kawasan Gunung Wilis ini," jelasnya.

Dari kegiatan 11 kali reboisasi, menurutnya Perhutani dan LMDH telah menanam sebanyak 500 ribu pohon di 238 Hektar lahan.

"Timing (waktu) tanam harus tepat sehingga pohon yang kita tanam ini dalam tiga bulan dipastikan hidup sehingga pemeliharaan lebih mudah dan kita lakukan bersama-sama perbulan," kata Appanuddin.

Tiap reboisasi, dirinya mempunyai harapan 100 persen tumbuh dengan baik. Namun, tetap saja ada sekitar 10 persen mengalami kegagalan.

"Inilah pentingnya kita lakukan penyulaman, khusus untuk di kawasan hutan lindung ini kita harap kedepan tanaman buah ini dapat terintegrasi dengan program pemerintah yang akan menjadikan kawasan ini menjadi wisata buah dan dalam tujuh tahun kedepan mampu menjadi pasar buah," ujarnya.

Dalam pelaksanaan reboisasi ini, pihaknya, Forkom LMDH dan Muspika menanam 1500 bibit berupa tanaman buah durian, alpukat, pete, jengkol, sukun, manggis, mahoni dan pinus yang ditanam di lahan seluas138, 8 Hektar.

"Tiap lahan kita tanam pohon berbeda, menyesuaikan permintaan masyarakat," tandasnya.

Dirinya berharap agar pemanfaatan lahan di seputar wilayah hutan ini dapat menjadikan sumber kehidupan bagi warga masyarakat.

“Seperti yang kita ketahui bahwa hutan itu dapat menjadikan pangan, mencegah bencana. Dengan reboisasi ini kami berharap semoga dapat bermanfaat serta meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar," jelasnya.

Jika masyarakat mampu menjaga kelestarian hutan, apa yang ditanam hari ini akan dipastikan bermanfaat dan dinikmati anak cucu di masa yang akan datang.