Pose Forkom BKPH, Perhutani BKPH Tulungagung dan Muspika Kecamatan Pagerwojo di lokasi Reboisasi (Foto: Anang Basso / TulungagungTIMES)
Pose Forkom BKPH, Perhutani BKPH Tulungagung dan Muspika Kecamatan Pagerwojo di lokasi Reboisasi (Foto: Anang Basso / TulungagungTIMES)

Puluhan orang tampak sibuk di area kawasan hutan yang terletak di Desa Gondang Gunung Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, Minggu (12/01) pagi. 

Warga yang tergabung dalam forum komunikasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) bersama Perhutani KPH Kediri BKPH Tulungagung dan Muspika Pagerwojo menggelar gerakan reboisasi berupa penanaman pohon buah dan pinus.

"Wilayah ini sebagai penyangga ekologi, jadi vital sekali bagi keberlangsungan ekosistem alam. Makanya kita jaga dan kita lakukan reboisasi," kata pegiat lingkungan Arif Tri Wahyudi.

Lanjutnya, pemanfaatan Sumber Daya Alam untuk mensejahterakan masyarakat harus diimbangi dengan pelestarian alam berupa hutan.

“Kawasan Hutan Lereng Wilis ini merupakan bagian penting sebagai penyangga kehidupan, jangan sampai hutan ini rusak dan tidak terkendali sehingga berujung pada bencana,” katanya.

Lembaga masyarakat desa hutan ini mengajak segenap unsur masyarakat agar lebih peduli pada alam dan menggiatkan penanaman dengan memanfaatkan lingkungan yang ada.

Senada dengan Arif, Ketua Forum Komunikasi LMDH, Eko Sujarwo mengajak agar kepedulian pada hutan dapat terus ditingkatkan.

"Selama ini kita terus melakukan penanaman di lahan yang merupakan wilayah Perhutani, kita harapkan penanaman yang kita lakukan dapat berhasil," terang Sujarwo yang juga Kepala Desa Kradinan itu.

Sujarwo selaku ketua forum komunikasi yang membawahi 82 LMDH se Kabupaten Tulungagung itu juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Perum Perhutani BKPH Tulungagung, yang selama ini telah bekerjasama dengan pihaknya untuk memanfaatkan potensi di seputar wilayah kawasan hutan.

“Semoga kerjasama ini tidak hanya sampai di sini saja, kami harap kerjasama ini terus berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam hal ini, Sujarwo menegaskan bahwa masyarakat saat ini telah bertekat bulat untuk melestarikan serta mengembalikan lagi fungsi dan manfaat hutan yang saat ini dirasa kurang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar wilayah hutan.

"Masyarakat semakin mau berpartisipasi, memang beberapa ada yang perlu lebih ditingkatkan sosialisasinya," paparnya.

Sosialisasi yang harus dilakukan adalah mengimbau masyarakat untuk tidak mengganggu tanaman hutan, karena banyak masyarakat di wilayah Pagerwojo yang menanam rumput gajah yang sering menenggelamkan persemaian tanaman reboisasi.

"Kita menyadari masyarakat di sini banyak yang beternak sapi untuk komoditas susu, kadang memang jika menanam ini kurang koordinasi sehingga menenggelamkan tanaman kita. Namun, kita lakukan sosialisasi untuk memberikan kesadaran bagi warga masyarakat," jelasnya.

Sementara itu, Asper Perum Perhutani BKPH Tulungagung Appanuddin dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa selama 2019, pihak Perhutani bersama dengan 26 LMDH yang merupakan mitra BKPH Tulungagung KPH Kediri telah melaksanakan reboisasi sebanyak 10 kali.

"Ini reboisasi ke 11, kita apresiasi kerjasama dengan LMDH ini karena mampu melaksanakan pengolahan kawasan hutan dengan baik," kata Appanuddin.

Perhutani bersama LMDH selama ini menurut Appanuddin intensif berkomunikasi dan melakukan kerjasama mulai dari pembibitan, penanaman, produksi dan pengamanan wilayah hutan.

"Di sini baik LMDH dan masyarakat sekitar sangat peduli dengan lingkungan di kawasan Gunung Wilis ini," jelasnya.

Dari kegiatan 11 kali reboisasi, menurutnya Perhutani dan LMDH telah menanam sebanyak 500 ribu pohon di 238 Hektar lahan.

"Timing (waktu) tanam harus tepat sehingga pohon yang kita tanam ini dalam tiga bulan dipastikan hidup sehingga pemeliharaan lebih mudah dan kita lakukan bersama-sama perbulan," kata Appanuddin.

Tiap reboisasi, dirinya mempunyai harapan 100 persen tumbuh dengan baik. Namun, tetap saja ada sekitar 10 persen mengalami kegagalan.

"Inilah pentingnya kita lakukan penyulaman, khusus untuk di kawasan hutan lindung ini kita harap kedepan tanaman buah ini dapat terintegrasi dengan program pemerintah yang akan menjadikan kawasan ini menjadi wisata buah dan dalam tujuh tahun kedepan mampu menjadi pasar buah," ujarnya.

Dalam pelaksanaan reboisasi ini, pihaknya, Forkom LMDH dan Muspika menanam 1500 bibit berupa tanaman buah durian, alpukat, pete, jengkol, sukun, manggis, mahoni dan pinus yang ditanam di lahan seluas138, 8 Hektar.

"Tiap lahan kita tanam pohon berbeda, menyesuaikan permintaan masyarakat," tandasnya.

Dirinya berharap agar pemanfaatan lahan di seputar wilayah hutan ini dapat menjadikan sumber kehidupan bagi warga masyarakat.

“Seperti yang kita ketahui bahwa hutan itu dapat menjadikan pangan, mencegah bencana. Dengan reboisasi ini kami berharap semoga dapat bermanfaat secara ekologis serta meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar," pungkasnya.