Situasi guyub rukun ngopi bareng di warung kopi dan hiburan KRM 77 Wates. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Situasi guyub rukun ngopi bareng di warung kopi dan hiburan KRM 77 Wates. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES



Suasana gayeng mewarnai suasana ngopi bareng dan silaturahmi tiga pilar di Desa Wates, Sumbergempol, Kamis (08/11) malam. Hadir dalam kegiatan itu, Kapolsek Sumbergempol AKP I Nengah Suteja, Kepala Desa Wates Rudhianto serta tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan pengurus Pawahita.

"Kegiatan seperti ini sangat penting diselenggarakan. Selain bisa dialog yang bermanfaat dengan membahas situasi terkini dan masalah lainnya, terjalin komunikasi yang baik untuk menyelesaikan masalah di masyarakat," kata Rudhianto.

Kepala desa berharap agar kegiatan dapat diselenggarakan secara rutin. Sehingga, masalah yang berhubungan dengan hukum, sosial, serta hal lain dapat dibicarakan dengan baik dan solutif.

Sementara itu, Kapolsek Sumbergempol AKP Nengah Suteja menegaskan jika pihak kepolisian berkewajiban menjaga situasi aman dan kondusif di wilayahnya. Dirinya meminta agar masyarakat tidak segan dan tidak sungkan lagi meminta pelayanan dari kepolisian untuk urusan Ketertiban masyarakat.  "Jangan takut meminta pelayanan kepolisian. Itu semua gratis alias tidak membayar," ujarnya.

Bahkan, Suteja meminta agar masyarakat aktif memberikan informasi terkait situasi di tengah masyarakat. Bukan hanya informasi tentang kriminal, namun lebih jauh lagi informasi sosial dan lainnya yang dapat juga disampaikan kepada pihak kepolisian.

Dalam kesempatan itu, Suteja mengingatkan pentingnya "agunge sikap tulung tinulung (astuti)" sebagaimana yang kini digencarkan  Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia sebagai jargon gotong royong antara masyarakat dan kepolisian di Kota Marmer.

"Jika kita memahami betapa pentingnya astuti atau agunge sikap tulung tinulung ini, maka segala sesuatu bisa dilaksanakan dengan gotong royong dan saling membantu antarmasyarakat, aparat dan juga birokrat," terangnya.

Acara yang berlangsung di Warung Kopi dan Karaoke KRM 77 itu juga diwarnai dengan acara tanya jawab tentang berbagai macam persoalan. Masalah penting yang dibahas antara lain tentang pidana pengancaman pengamanan jalan, potensi pelanggaran lalu lintas, kecelakaan, kekerasan dalam rumah tangga dan penyakit masyarakat lainnya.

Bahkan, dialog tentang keberadaan warung kopi yang dinilai banyak disalahgunakan oleh pemiliknya juga mencuat seiring dengan kehadiran para pengurus Paguyuban Warung Hiburan Tulungagung (Pawahita).

Acara ditutup dengan ramah taman dan santap malam bersama dengan makanan khas berupa sompil serta sajian kopi dari warung kopi KRM 77.


End of content

No more pages to load