salah satu pasien diperiksa matanya oleh petugas kesehatan dalan screening di Dinkes Tulungagung (foto : Joko Pramono/ JatimTIMES)

salah satu pasien diperiksa matanya oleh petugas kesehatan dalan screening di Dinkes Tulungagung (foto : Joko Pramono/ JatimTIMES)



Sebanyak 125 penderita katarak di screening (seleksi) untuk mendapat operasi gratis katarak di Dinkes Tulungagung. Dari 125 penderita katarak itu, nantinya 75 diantaranya akan memperoleh operasi gratis yang dibiayai oleh APBD, terutama warga miskin.

“Jadi bakti sosial ini diperuntukan bagi warga miskin,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Ana Saripah, Jum’at (20/9/19).

Sebelum diseleksi di Dinkes, penderita katarak ini sudah diseleksi di tingkat kecamatan oleh petugas Puskesmas.

Syarat untuk mendapat tindakan operasi katarak, tekanan darah penderita tidak boleh tinggi, tidak menderita diabetes, tekanan bola mata tidak tinggi, dan paling utama adalah warga miskin.

“Kalau gulanya tinggi, maka harus dikelola agar gulanya bisa turun dan bisa mengikuti operasi,” terangnya.

Kegiatan baksos ini sudah dilakukan sejak 2006. Dari data yang ada, 0,7 persen masyarakat mengalami gangguan mata ini, namun banyak dari mereka tidak paham dengan katarak ini.

Warga miskin yang mendapat baksos ini adalah yang tidak mempunyai jaminan kesehatan.

“Dengan baksos ini diharapkan mereka mendapatkan penglihatannya kembali,” ujar wanita berjilbab itu.

Katarak merupakan penyakit yang tidak menular. Penyakit ini dikarenakan tumbuhnya selaput yang menutupi kornea mata.

tak memandang usia, baik muda maupun tua bisa terkena penyakit ini.

“Dari tahun KA tahun kita menemukan penderita katarak itu masih banyak,” ujarnya.

Selanjutnya untuk pasien yang lolos seleksi akan menjalani operasi pada 26 Oktober mendatang. Sedang untuk yang mempunyai tekanan darah tinggi, diabetes akan diobati agar bisa mengikuti operasi.

Untuk melakukan operasi ini, pihaknya menggandeng rumah sakit swasta, RS Prima Medika. Dokter yang melakukan operasi berasal dari PERDAMI (Persatuan Dokter Mata Indonesia) pusat.

“Ada 6 orang dokter, mudah-mudahan semuanya bisa hadir,” pungkas nya.


End of content

No more pages to load