Pengelola Perpustakaan Sejarah dan Budaya Puspa Lulut, Lulut Edi Santoso, menunjukkan salah satu naskah kuno yang dipamerkan di Perpustakaan Umum Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Pengelola Perpustakaan Sejarah dan Budaya Puspa Lulut, Lulut Edi Santoso, menunjukkan salah satu naskah kuno yang dipamerkan di Perpustakaan Umum Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Perpustakaan Umum Kota Malang memamerkan 10 manuskrip atau naskah kuno koleksi Perpustakaan Sejarah dan Budaya Puspa Lulut. Naskah-naskah tersebut berasal dari masa 1800-1900 Masehi. Salah satunya berisi kisah tentang Nabi Yusuf AS yang tertulis di atas kertas daluwang atau kertas kulit kayu.

Kisah tersebut tertulis di kertas daluwang dengan panjang 20,4 sentimeter dan lebar 14,5 sentimeter. Bukan menggunakan huruf latin yang umum digunakan saat ini, naskah tersebut ditulis dalam huruf pegon atau juga disebut Arab gundul. Kisah Nabi Yusuf AS tertuang dalam bentuk puisi naratif sepanjang 68 halaman.

Ada pula sebuah kitab suci Alquran dengan ukuran panjang dan lebar 23,5 dan 18 sentimeter. Kitab setebal 112 halaman dan 3 halaman kosong itu berisi fragmen surat Albaqarah dan Surat Ali Imran lengkap. Diperkirakan dibuat pada 1800 M, kitab tersebut juga menggunakan kertas daluwang.

Naskah kuno yang relatif lebih baru yakni Layang Wong Agung Jayengrana yang menggunakan kertas Eropa. Manuskrip tersebut menggunakan bahasa Jawa meski memakai huruf pegon. Puisi naratif tentang Wong Agung Jayengrana, sebuah versi Jawa dari cerita Amir Hamzah yang merupakan tokoh imajinatif yang diadaptasi dari tokoh historis Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW. 

Jilidan naskah terbuat dari kertas yang dilapisi kain. Di halaman awal terdapat stempel petinggi Desa Boemiajoe, Gadang, Malang. Selain itu, di beberapa halaman awal dan akhir naskah terdapat catatan dalam bahasa Jawa dengan aksara Hanacaraka. 

Naskah-naskah tersebut dapat dilihat langsung oleh pengunjung perpustakaan hingga Jumat (20/9/2019) besok. Pengelola Perpustakaan Sejarah dan Budaya Puspa Lulut, Lulut Edi Santoso mengungkapkan bahwa pameran tersebut digelar untuk mengenalkan naskah kuno pada masyarakat dan pengunjung perpustakaan.

"Kebetulan persiapan pameran ini mendadak, jadi yang ditampilkan hanya sedikit. Koleksi lain saya ada di perpustakaan pribadi di rumah," terang pria yang tinggal di Perum IKIP Tegalgondo Asri 1K/07, Karangploso, Kabupaten Malang itu.

Dia berharap, koleksi yang ditampilkan ini dapat memberi manfaat kepada masyarakat. Menurut dia, saat ini akses para generasi muda untuk mengetahui naskah kuno sangat terbatas. "Harapannya setelah melihat di sini bisa terdorong untuk mempelajari sejarah Nusantara, Hindia-Belanda dan Indonesia. Juga harapan saya pribadi agar kesenangan dalam melestarikan budaya Indonesia dapat tertularkan ke lainnya," sebut guru seni dan budaya SMAN 3 Kota Malang itu. 

Lulut sendiri telah cukup dikenal bagi kalangan sejarawan. Ia merupakan pecinta manuskrip kuno yang juga menginisiasi kelompok belajar membaca naskah kuno. Kumpulan manuskrip yang ditampilkan tersebut, tidak lepas dari hobinya. Kesenangannya mengoleksi manuskrip kuno telah dimulai sejak 2008 atau 2009. "Mulai suka ketika sudah memeroleh tunjangan sertifikasi guru, jadi mulai mengoleksi," sebutnya.

Semenjak serius menekuni hobinya, Lulut berhasil menemukan manuskrip-manuskrip tertua yang diduga telah ditulis sejak 1600-an. Sementara manuskrip termudanya diperkirakan pertama muncul sekitar awal abad 19.

"Contohnya koleksi manuskrip Quran yang ditulis di atas daluwang. Ini dapat dari Mataram bersamaan dengan naskah tasawuf Islam," terangnya.
 

Dia juga mempunyai Babad Demak, Jenggala, dan Kerajaan Panjalu, dan lain-lain. Ada juga dua jenis tulisan perhitungan primbon. Pertama, naskah yang ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa. Sementara primbon jenis lainnya ditulis dalam bahasa Belanda. "Terus ada Babad Tong Tya yang berisikan kisah daratan Cina dalam bahasa Jawa," urainya. 

Meski demikian, Lulut mengaku naskah-naskah tersebut tidak dipamerkan dalam waktu lama karena tingkat kerapuhan kertasnya. "Kan ini sangat rapuh, tidak boleh terpapar cahaya matahari atau cahaya lampu yang terlalu terang. Air, debu, angin, apalagi api. Jadi harus hati-hati benar, bagi yang ingin menyentuh juga saya harap kondisi tangannya bersih dan kering," pungkasnya. 


End of content

No more pages to load