Pinokio sosok legendaris hasil karya Carlo Collodi, penulis Italia. (Ist)

Pinokio sosok legendaris hasil karya Carlo Collodi, penulis Italia. (Ist)



Bagi anak-anak, sosok dan karakter Pinokio adalah keriangan sekaligus ruang belajar. Yakni, setiap kebohongan akan secara langsung diganjar dengan hukuman, yaitu bertambahnya panjang hidung Pinokio.

Tapi, di mata anak-anak, hukuman itu pun tidak terjatuh pada kegaduhan di ruang publik. Apalagi sampai pada, misalnya, penghakiman masal seperti yang terjadi saat ini di Indonesia. Yaitu mencuatnya polemik bayangan Pinokio dari sosok yang digambarkan sebagai Presiden Jokowi.

Lantas, siapakah Pinokio yang sosoknya menjadi begitu identik dengan berbagai unsur negatif dan selalu disematkan kepada para pejabat negara atau politisi ini? Dari berbagai data yang ada serta adanya beberapa kalangan yang tertarik dengan kisah yang ditulis  Carlo Lorenzini, yang akhirnya memakai nama pena Carlo Collodi seperti nama kampung halaman ibunya, Collodi, dekat Pistoia di Tuscany, Italia, Pinokio sebagai tokoh rekaan yang ditulis sekitar 130 tahun lalu, tepatnya tanggal 7 Juli 1881. 

Pinokio memiliki berbagai sisi unik yang tidak sekadar menyoroti sosok petualangan anak kecil yang berawal dari sepotong kayu dari Tuan Cherry kepada pemahat bernama Geppeto.
Sosok dengan karakter polos, bodoh, suka berbohong, dan egois yang akhirnya dari berbagai pengalaman yang dialaminya menjadikan sang Pinokio  pribadi yang peduli terhadap perasaan orang lain dan patuh kepada orang tua.

"...menurut saya, mesti bersyukur (Jokowi, red) dimiripkan Pinokio," tulis Agus Noor, sastrawan ternama Indonesia.

Tapi, juga ada lapisan-lapisan dari kisah petualangan Pinokio yang menurut beberapa kalangan memiliki akar yang kuat dengan dunia nyata. Misalnya terkait sang pencipta Pinokio yang merupakan anak pertama dari 10 bersaudara dari keluarga juru masak (Domenico Lorenzini, ayah) dan penjahit (Angela Orzali, ibu). 

Collodi sebelum menjadi penulis buku anak-anak juga pernah menjadi jurnalis yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Italia, pada usia 22 tahun. Jurnal Lampu, 1848, pun merupakan salah satu yang didirikannya sebagai ruang kritik melalui sindiran-sindiran terhadap  kehidupan masyarakat, sebelum akhirnya ditutup pada tahun 1849. 

Berbagai tulisan Collodi, baik berupa komedi, koran, jurnal dan berbagai ulasan yang berat dan tidak menyasar anak-anak, berhenti saat Italia menjadi negara persatuan. Collodi memulai genre tulisan untuk anak-anak dengan dunia fantasinya.

Ternyata, genre tulisan itu sangat disukai masyarakat. Berbagai karya anak-anak pun lahir dari tangannya. Misalnya Dongeng (I racconti delle fate), cerita anak-anak pertama yang dikarang oleh Collodi pada tahun 1876.  

Juga buku Giannettino, buku pelajaran sekolah yang pertama kali ditulis oleh Collodi (1877). Buku ini berisi narasi dan konsep edukasi tentang Gianettino, seorang pemuda yang jahat.

Buku lain adalah Macchiette dan Gaya Cerita (Storie allegre), kumpulan cerita yang ditulis oleh Collodi di koran anak-anak (Giornale per i bambini) yang di dalamnya terdapat sekuel tentang letualangan Pinokio (Adventures of Pinocchio) yang menjadi ikon bagi orang-orang dengan karakter seorang pembohong. Setiap kali berbohong, maka hidungnya akan memanjang.

Kisah Geppetto dan boneka kayu pinusnya dibuat berseri dalam majalah anak-anak Italia dengan judul La Storia di un Burattino (Kisah Seorang Marionette) pada tahun 1881 dan kemudian diubah menjadi buku dua tahun kemudian yang diberi judul "Petualangan Pinokio."

Pada 26 Oktober 1890, Collodi mendapat serangan jantung mendadak ketika memasuki rumah dan akhirnya dia meninggal.

Sisi keunikan lainnya adalah terkait lokasi kisah Pinokio yang menurut Alessandro Vegni, seorang ahli komputer, merupakan nama asli di desa Tuscan di San Miniato Basso, yang terletak di pertengahan antara Pisa dan Florensia. Nama asli desa tersebut sebenarnya adalah "Pinocchio."

"Nama desa itu (San Miniato Basso) yang sekarang diberikan pada tahun 1924," ungkap Vegni. "Kami mengetahui dari rekaman sejarah bahwa desa itu aslinya 'Pinocchio,' kemungkinan dinamakan seperti nama sungai yang ada di dekat desa itu." imbuhnya.

Vegni memberikan penjelasan terkait penelitiannya tersebut. Dimulai dari San Miniato, menunjukkan sejumlah kesamaan dengan kisah Collodi. Terdapat "casa Il Grillo" (Rumah Jangkrik), sebuah bangunan pedesaan yang namanya mungkin merujuk pada Jangkring yang Berbicara dan Desa Osteria Bianca (Penginapan Putih). Pubnya masih ada yang Vegni percaya menginspirasi Penginapan Udang Merah dalam cerita.

Yang menarik, si rubah dan kucing yang bertemu dengan Pinokio tampaknya berhubungan dengan dua segi dalam peta: Rio delle Volpi (Sungai Rubah) dan dua rumah yang disebut "Rigatti" (berasal dari kata "gatti" yang berarti kucing-kucing). Tak jauh dari situ, Desa La Lisca (Tulang Ikan) bisa jadi menginspirasi alur kisah Pinokio yang ditelan oleh ikan paus. Yang pasti, nama-nama tempat itu memainkan peran ketika penulis Pinokio memilih nama penanya.

Hal lain yang juga unik terkait Pinokio adalah dipercaya sebagai buku kedua setelah Injil yang paling awal diterjemahkan ke berbagai bahasa lain. Selain tentunya kisah Pinokio menjadi inspirasi ratusan edisi barunya, drama panggung, film, sampai pada pemakaian ikonnya yang disematkan kepada para pejabat dan politikus di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Presiden Joko Widodo (Jokowi).


End of content

No more pages to load