Ribuan warga turun ke sungai setelah dam dibuka untuk mencari ikan mabuk / Foto : Anna / Tulungagung TIMES

Ribuan warga turun ke sungai setelah dam dibuka untuk mencari ikan mabuk / Foto : Anna / Tulungagung TIMES



Ribuan orang berebut turun ke sungai setelah sebelumnya berkumpul di sepanjang sungai Desa Wajak, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, hingga Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, sejak menjelang subuh. Mereka turun dan menceburkan diri ke sungai setelah dibukanya DAM Ngipeng yang merupakan perbatasan antara Desa Junjung dan Wajak Kidul.

Mereka membawa jenis bentuk alat pencari ikan. Tanpa dikomando, ribuan orang tersebut berebut ikan mabuk atau dikenal dengan pladu. 

"Biasanya sejak subuh saya datang. Tapi tadi saya datang agak siang karena dam dibuka juga tidak pagi-pagi seperti dulu," ungkap Munar, warga Ngunut yang mengaku mendapat kabar dari grup Whattshap, Minggu (15/09) siang. 

Mereka yang datang memenuhi pinggiran sungai bukan hanya warga sekitar. Warga luar desa bahkan luar kecamatan seakan menjadi langganan dan selalu datang saat ada kabar tentang pladu. Mirip dengan komunitas yang terbentuk dengan alami, para penghobi ikan selalu datang saat mendapatkan kabar dari media sosial.

"Semua bertujuan sama untuk menangkap ikan mabuk yang biasanya sangat banyak setiap tahun sekali," tambahnya.

Para penghobi berburu ikan akan membawa alat sesuai kebiasaan yang mereka lakukan. Misalkan, jika hobinya menangkap dengan alat jala, mereka akan membawa jala. Jika hobi nyetrum, mereka akan membawa strum ikan dan sebagainya.

"Saya hobi mancing, jadi tidak mungkin mencari ikan memakai pancing. Akhirnya saya membawa irik (alat dapur) untuk menggantikan jaring. Ini lebih kaku jadi lebih mudah untuk menangkap," ujar Barni (54), warga Boyolangu yang juga bekerja sebagai pedagang.

Ribuan pemburu ikan tersebut seakan berlomba nendapatkan tangkapan ikan yang bisanya berupa ikan tawes, betheman, kutuk atau gabu, betik, sili, uceng, garingan, lele hingga udang kali yang sangat mudah didapatkan saat musim pladu berlangsung.

Kegiatan yang kini telah menjadi agenda tahunan dan membudaya ini sebenarnya dilakukan untuk mengurangi pasokan air ke sawah dan untuk mengurangi sedimen atau endapan lumpur yang sudah semakin meninggi. 

Akibat dari besarnya penggelontaran luapan air sungai, maka pembuangan air pun diikuti sedimen lumpur dan menyebabkan spesies ikan dan aneka biota sungai menjadi mabuk, sehingga ikan dan biota sungai tersebut menjadi sasaran rebutan warga.

Kebanyakan warga yang mencari ikan untuk dikonsumsi sendiri di rumah. Namun tak jarang jika ikan yang didapatkan banyak, mereka akan menjualnya dengan harga yang sangat murah.

 


End of content

No more pages to load