Menkeu Sri Mulyani mengingatkan masyarakat jangan berharap kepada satria piningit. (Ist)

Menkeu Sri Mulyani mengingatkan masyarakat jangan berharap kepada satria piningit. (Ist)



Menteri Keuangan Sri Mulyani secara khusus mengingatkan kondisi perekonomian Indonesia yang disebut melambat oleh banyak kalangan. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri pada kuartal II-2019 berada di level 5,05 persen secara tahunan, seperti dilansir Badan Pusat Statistik (BPS). Angka pertumbuhan tersebut jauh melambat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (kuartal II-2018) yang sebesar 5,27 persen. Ini juga merupakan laju pertumbuhan ekonomi yang paling kecil sejak kuartal II-2017.

Kondisi perekonomian Indonesia itulah yang membuat Sri Mulyani mengatakan, untuk memperbaiki kondisi perekonomian tersebut, tentunya membutuhkan waktu yang tak sebentar.

"Karena itu, saya meminta masyarakat jangan berharap ada satria piningit yang mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi dalam waktu sekejap," ucap mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini menanggapi banyaknya kalangan yang melakukan kritik terkait kondisi perekonomian Indonesia yang sedang melambat itu.

Pernyataan Sri terkait satria piningit yang masih hidup dalam kepercayaan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa bahwa satria piningit yang akan membereskan berbagai persoalan di Indonesia dengan cepat, khususnya dalam perekonomian. Jangan membuat semakin melemahnya perekonomian dikarenakan adanya keyakinan atas akan munculnya satria piningit yang akan menyelesaikan persoalan itu.

“Jangan berharap ada satria piningit yang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan (ekonomi). Jangan harap ada satria piningit. Itu cuma ada di Disneyland,” tegas Sri.

Untuk keluar dari himpitan persoalan itu, Indonesia tengah menyiapkan beberapa upaya agar bisa bisa masuk kelima negara terbesar di dunia pada 2045 di bidang perekonomian. Sri menyampaikan, ada enam langkah yang dipersiapkan pemerintah Indonesia agar bisa mewujudkan hal tersebut.

"Ada peningkatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur yang dapat menopang revolusi industri 4.0, penguatan desentralisasi fiskal, peningkatan investasi dan eskpor serta reformasi birokrasi," urainya yang juga mengatakan diperlukannya pengendalian resiko APBN yang sehat dan berkelanjutan. "Seperti pengendalian defisit dan rasio utang,” imbuh wanita kelahiran Palembang ini.

Selain enam langkah di dalam negeri, Sri juga mengatakan Indonesia membutuhkan sistem perekonomian yang lebih kuat untuk menangkal gangguan eksternal. Salah satunya adalah kicauan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di akun Twitter pribadinya yang bisa mengacaukan kondisi perekonomian global.

“Setiap kicauan yang dibuat oleh Trump mempengaruhi sentimen, harapan, dan proyeksi untuk ekonomi. Untuk mengantisipasi spillover global, kita perlu mengembangkan sistem imun yang lebih baik untuk mencegah penularannya, " ucap Sri.

Mengutip Bloomberg pada Jumat (13/9/2019), Sri  mengatakan Indonesia tengah menghadapi ketidakpastian, mulai dari perang dagang antara AS dan China, Brexit, fluktuasi harga komoditas, moderasi pertumbuhan di China, geopolitik, dan perubahan iklim. Berbagai kondisi itulah yang membuat Sri mengingatkan bahwa untuk menghadapinya, jangan mengharapkan datangnya satria piningit.

 


End of content

No more pages to load