Kasarpol PP Provinsi Jatim, Budi Santosa (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Kasarpol PP Provinsi Jatim, Budi Santosa (foto : Joko Pramono/Jatim Times)



 Kasatpol PP Provinsi Jawa Timur, Budi Santosa mengijinkan aktivitas penambangan ilegal pasir di Kali Brantas. 

Hal itu diungkapkanya dihadapan penambang pasir yang biasa melakukan aktifitasnya di sekitar kecamatan Nagntru, Tulungagung.

“Boleh menambang pasir, tapi secara tradisional (non mekaknis),” ujar Budi Santosa,  Kamis (29/8/19) saat bertemu dengan penambang pasir Ngantru di gedung Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.

Saat ini para penambang melakukan aktivitasnya dengan menggnakan alat mekanis berupa mesin sedot. 

Akibat penyedota pasir secara berlebih dengan alat sedot itu, mengakibatkan kondisi dasar kali brantas mengalami pendalaman.

Penambangan secara manual menurut Budi dianggap lebih aman dari sisi lingkungan. 

Namun tidak mudah membujuk para penambang untuk beralih dari penambangan mekanis ke manual. 

Pasalnya aktivitas penambangan sendiri erat hubunganya dengan urusan perut.

Meski begitu pihakya mengakui adanya penurunan tindak kriminal di wilayah penambangan pasir, namun di satu sisi harus menghadapai pengrusakan lingkungan.

Untuk itu pihaknya meminta harus ada solusi cerdas untuk menghentikan aktivitas penambangan pasir secara mekanis. 

Dirinya mencontohkan adanya pemberdayaan masyarakat penambang pasir, seperti berwiraswasta atau membentuk koperasi.

“Apa ada bentuk wira usaha baru yang sifatnya tidak instan seperti ini, (dan) apa masyarakat mau?” ujarnya lebih lanjut.

Bentuk usaha yang diusulkan olehnya kepada masyarakat tidak jauh dari kearifan lokal desa setempat.

Budi mencontohkan bimbingan pada masyarakat oleh pemerintah. 

Seperti pembuatan keripik pisang dengan pendampingan dari pemerintah terhadap pelaku penambangan ilegal.

Saat disinggung adanya mafia penambangan pasir, Budi akan bertemu dengan beberapa tokoh penambangan pasir ilegal di wilayah Tulungagung, seperti koordinator penambangan dan aparat penegak hukum.

“Kita akan munculkan kesadaran barulah, ini masalah degradasi ( kerusakan ) lingkungan dan ini berdampa pada bencana alam,” terangnya.

Jika itu terjadi seperti saat ini kondisi pondasi penyangga jembatan Ngujang yang mulai keropos, maka jembatan bisa sewaktu-waktu roboh. 

Jika roboh maka akan berdampak terhadap perekonomian Tulungagung lantaran arus baran dan jasa yang terganggu.


End of content

No more pages to load