Fais saat di rilis di Mapolsek Ngunut / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Fais saat di rilis di Mapolsek Ngunut / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES


Editor

A Yahya


Pelajar yang diketahui bernama Nur Fais Pratama (18) warga Desa Gandekan, Wonodadi, Kabupaten Blitar, diamankan Polsek Ngunut setelah sebelumnya ditangkap di wilayah Sumbergempol. Nur Fais adalah satu diantara dua tersangka penjambret yang ditangkap warga dan diserahkan ke polisi. 

Pelaku diketahui kelas XI di salah satu SMK di Tulungagung itupun mendekam di tahanan. Kapolsek Ngunut Kompol Siti Nurinsana mengatakan akan menahan David meski berstatus pelajar mengingat usia David telah lebih dari 18 tahun. "Tersangka ini bukan lagi anak-anak. Makanya kami lakukan penahanan," kata Siti Nurinsana saat gelar rilis di Polsek Ngunut, Selasa (27/08) siang.

Lanjut Kapolsek, pihaknya masih mendalami pengakuan Fais ini karena di usia yang masih pelajar sudah melakukan tindakan kejahatan yang tergolong berani. Selain itu, dalam rilis Fais seolah tidak merasa bersalah dan cengengesan.

Sebelumnya diketahui, Fais bersama kawannya AG menjambret ponsel Samsung J2 mili PND (17), pada Sabtu (24/07) lalu. Fais yang berada di jok belakang menendang motor Honda Beat yang dikendarai PND saat melaju di Jalan Raya Pulosari, Kecamatan Ngunut.

Kemudian Fais mengambil ponsel korban, yang ditaruh di laci motor sebelah kiri ke dian langsung kabur dengan sepeda motor Honda Megapro tanpa plat nomor.

Namun PND yang mengejarnya berhasil menyusul, karena motor yang dikendarai Fais kehabisan bensin. Apes, bagi Fais karena dirinya ditangkap saat berada di sebuah warung di Desa/Kecamatan Sumbergempol.

Namun, AG berhasil lolos dan kini masih di cari polisi. Warga menyerahkannya ke polisi dari Polsek Sumbergempol yang tengah patroli.

Sementara itu, tersangka Fais mengaku baru mengenal AG. "Saya baru kenal teman saya itu di kost, lalu diajak mencuri telur dapat uang Rp 750 ribu dan saya diberi Rp 300 ribu," kata Fais yang memiliki tato di bagian tangan ini. 


End of content

No more pages to load