Visi Jokowi pada periode keduanya adalah percepatan. (Ist)

Visi Jokowi pada periode keduanya adalah percepatan. (Ist)



Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengisahkan perjalanannya ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dalam Muktamar Ke-5 PKB di Bali.  Kisah itu terkait kekagumannya atas capaian Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), dalam pembangunan sekaligus kritik keras untuk pelayanan perizinan yang dilakukan oleh jajarannya di bawah sampai saat ini.

Menurut Jokowi, sistem protokoler di Abu Dhabi sederhana. Dirinya saat berkunjung ke sana langsung dijemput oleh putra mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan yang membawa kendaraannya sendiri.

"Turun tangga pesawat, saya langsung dijemput Sheikh Mohamed dengan kendaraannya sendiri. Tanpa ribet-ribet protokoler yang mengatur ini itu. Mobil itu juga disetirnya sendiri," ungkap Jokowi memulai kisahnya.

Di dalam mobil itu, lanjut Jokowi, dirinya merasa heran dengan jalannya kendaraan yang disetiri langsung sang putra mahkota Abu Dhabi ini. Jokowi merasa laju kendaraan yang ditumpanginya terasa lamban sekali.
"Tapi, setelah melihat spedometernya, saya kaget. Kecepatannya 190 kilometer per jam. Saya mau tanya merek mobilnya apa, tapi sungkan. Nanti dibilang 'Presiden Jokowi kok ndeso'," ujarnya yang langsung membuat gelak tawa peserta muktamar PKB.

Bukan persoalan kendaraan yang ditumpangi yang jadi inti kisah itu. Jokowi mengatakan, di Abu Dhabi, urusan apa pun dibuat sederhana dan cepat.  "Di kita segalanya diatur-atur, ribet dan ruwet. Kita ini dibuat bingung dengan apa yang kita buat sendiri," ucapnya.

Dia mencontohkan banyaknya peraturan dari tingkat pusat sampai daerah yang eksesnya menjerat diri sendiri. "Padahal, yang buat aturan itu kita sendiri. Jadi, saat saya mau memutuskan ini itu, selalu ada yang mengatakan 'Pak hati-hati, undang-undang tidak memperbolehkan itu. Akhirnya kita tidak bisa bergerak cepat. Padahal kunci kemajuan saat ini adalah percepatan'," ujar Jokowi.

Persoalan itu pula yang membuat kemajuan Indonesia semakin jauh tertinggal dari negara lain.  Padahal, Indonesia memiliki berbagai kekayaan alam yang juga dimiliki negara lain. Bahkan, di Indonesia, banyak sumber daya alam yang tidak dipunyai negara lain, seperti Uni Emirat Arab.

"Kita punya segalanya, tapi income per kapita kita hanya 4 ribu US Dollar. Sedangkan Uni Emirat Arab sudah mencapai 43 ribu US Dollar. Saya tanya ke beliau (Sheikh Mohamed, red) apa kuncinya," cerita Jokowi.

Mantan pengusaha kayu asal Solo ini melanjutkan,  tahun 1960-an, warganya kalau mau ke Dubai menuju Abu Dhabi naik onta. Sedangkan di Indonesia sudah naik Holden atau Impala. Tahun 1970-an, di sana masih naik truk dan pikap, di Indonesia sudah naik mobil Kijang. "Tahun 1980-1985 di sana sudah naik BMW, kita masih saja naik Kijang," ungkapnya. Dia juga menyebutkan kunci perubahan di Abu Dhabi dari jawaban Sheikh Mohamed adalah kecepatan.

Jokowi menegaskan, ke depan penguasaan antarnegara bukan pada besar dan kecilnya wilayah ataupun kaya dan miskinnya suatu negara.  "Tapi negara yang cepat yang akan menguasai negara yang lambat," tandas nya.

Ketakjuban Jokowi terhadap percepatan di Abu Dhabi dipakainya juga untuk menyentil jajarannya dengan contoh yang disampaikannya. Jokowi menceritakan kisah nyatanya sebelum menjadi presiden dan mengurus perizinan di Dubai untuk berinvetasi. Perizinan di UEA hanya membutuhkan waktu 30 menit. "Padahal itu sekitar 17 tahun lalu. Di sini, 5 tahun lalu untuk ngurus izin pembangkit listrik butuh waktu 6 tahun dan tidak selesai-selesai," ujarnya.

Dengan berbagai kritik kerasnya itu, Jokowi pada periode kedua pemerintahannya akan fokus pada kunci keberhasilan dalam bersaing, yaitu kecepatan. Berbagai protokoler dan aturan yang begitu banyak dan menjadi penghambat percepatan akan dipangkas dan disederhanakan.

"Aturan jangan dibuat banyak-banyak. Sedikit tapi mantap dan bisa melindungi seluruh aspek yang ada. Daerah juga jangan terlalu banyak buat perda, tapi ujungnya merepotkan kepentingan berbangsa. Ini yang akan kita kerjakan dan harus disadari benar oleh semuanya," pungkas Jokowi.

 

Tag's Berita

End of content

No more pages to load