Tradisi Jaga Malam Jelang Pilkades / Foto : Ilustrasi / Medsos / Tulungagung TIMES

Tradisi Jaga Malam Jelang Pilkades / Foto : Ilustrasi / Medsos / Tulungagung TIMES


Editor

A Yahya


TULUNGAGUNG TIMES - Memasuki hari kedua masa tenang jelang Pilkades Serentak se Kabupaten Tulungagung yang akan digelar pada Selasa 09 Juli 2019 mendatang, tensi politik di berbagai desa mulai memanas. Memang tidak semua dari 239 desa yang akan menggelar Pilkades mengalami situasi panas, namun setidaknya di banyak desa telah dilakukan penjagaan dan berlaku jam malam
"Semua warga berjaga di posko masing-masing untuk mencegah adanya gerakan botoh dan upaya money politik," kata Wisnu (30) warga desa Gedangan Kecamatan Campurdarat Minggu (07/07) sore.

Menurut Wisnu, setiap calon kepala desa bersama tim sukses yang dimilikinya membentuk posko di masing-masing tempat yang ditentukan untuk dijadikan tempat berjaga. "Jika jam malam atau mulai sekitar jam 21.00 Wib ada orang asing yang bukan warga desa kami tampak masuk maka dipastikan akan diamankan," jelas Wisnu.

Kegiatan jaga malam ini sudah lazim dilakukan oleh warga yang akan menggelar agenda demokrasi Pilkades. Hal itu biasanya dilakukan untuk menjaga suara masing-masing calon agar tidak dicuri dengan serangan fajar atau money politik. "Biar tidak terjadi drop-dropan, karena itu maka perlu dijaga bersama," paparnya.

Sementara itu, warga yang juga aktivis relawan Tulungagung Bersatu Muhammad Iqbal mengungkapkan jika Pilkades kali ini adalah momen pertarungan sekaligus pertaruhan antara pemimpin yang bijaksana dan cerdas, pemimpin yang berbasis materi dan pemimpin yang lahir dari simpati atau dukungan. "Kalau pilih karakter kades, pilih bijaksana, cerdas (karena) materi atau Simpatik," kata Iqbal.

Jika pemimpin sudah mendapatkan simpati, meski bukan sosok bijaksana dan cerdas atau bahkan tanpa materi maka pemimpin tersebut dapat terpilih. "Jika karena simpati, maka tidak akan bisa dibeli dengan materi," terang Iqbal.

Namun, jika pemimpin yang mendapat simpati masyarakat mempunyai modal kebijaksanaan, kecerdasan sekaligus materi, menurut Iqbal masyarakat di desa tersebut beruntung lantaran mendapatkan semua syarat kepemimpinan. "Kalau semua karakter ini dimiliki oleh pemimpin yang mendapatkan simpati masyarakat, bisa dipastikan desanya akan maju," pungkasnya.

Di Tulungagung sendiri, masyarakat masih memiliki sikap apatisme pada karakter kepemimpinan. Terbukti di beberapa ajang pemilihan, materi menjadi penentu kemenangan calon untuk mendapatkan simpati dari masyarakat meski ajakan menolak politik uang santer disuarakan melalui spanduk dan sosialisasi langsung dan melalui media sosial. 


End of content

No more pages to load