Tradisi ulur-ulur diperingati empat desa di sekitar Telaga Buret Campurdarat / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

Tradisi ulur-ulur diperingati empat desa di sekitar Telaga Buret Campurdarat / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES


Editor

A Yahya


TULUNGAGUNG TIMES - Tradisi ulur-ulur masih terjaga di Tulungagung. Kegiatan tradisi itu masih berlangsung rutin setiap tahun. Tampak iring-iringan warga dengan pakaian adat berjalan dari SMAN 1 Campurdarat menuju ke Telaga Buret, di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Jumat (5/7) mulai pagi hingga siang.

Dengan iringan gamelan Jawa, mereka memasuki altar khusus di samping makam leluhur, Mbah Jigang Joyo. "Senang menyaksikan upacara ini tiap tahun, selalu semarak dan khidmat," kata pengunjung bernama Arin (36) asal Kecamatan Pakel.

Tidak lama berselang, upacara adat ulur-ulur dimulai, dengan memandikan dua patung simbol Dewi Sri dan Joko Sedono. Acara ini diadakan oleh masyarakat empat desa, yaitu Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan dan Gamping.

Ulur-ulur sendiri merupakan bentuk ucapan syukur atas keberadaan Telaga Buret, yang telah mengairi sawah keempat desa sejak ratusan tahun silam. Meski ukuran telaga tidak besar namun terbukti mampu mengairi area persawahan seluas 700 hektar dan menjadikan masyarakat murah pangan lantaran meski wilayah lain kekurangan air, warga empat desa ini tetap bisa menanam padi. “Selain menjaga adat, budaya, upacara ini untuk menjaga Telaga Buret agar tetap lestari,” ujar panitia ulur-ulur, Heri Setyono.

Bukan sekedar menjaga tradisi, ulur-ulur adalah upaya menjaga kelestarian area konservasi seluas 32 hektar. Jika sebelumnya menjadi agenda rutin, ulur-ulur kali ini dianggap istimewa, karena upacara ini diadakan pertama kali setelah  Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya (Hampar), selaku pengelola telaga Buret mendapatkan Kalpataru.

Seorang tokoh bernama Karsi Nerro Soethamrin yang mewakili Hampar, telah menerima penghargaan Kalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan Hidup.

Menurut Karsi, tidak ada yang berubah dari pengelolaan Telaga Buret yang sejak turun temurun secara ajaib menjadi sumber penghidupan empat desa. Dengan upacara ulur-ulur Karsi merasa bersyukur karena semakin banyak warga yang memahami pentingnya kelestarian Telaga Buret. “Jadi kalau pun ada pengembangan wisata, tetap harus mengedepankan aspek konservasi alam,” terangnya.

Meski tak terlalu luas, area telaga buret dikenal sebagai hutan tua yang sangat rindang, dan mempunyai area perkemahan. Disana terdapat  telaga yang berisi aneka hewan air, ada air terjun kecil tersembunyi di tengah hutan.

Setiap hari ratusan kera berkeliaran serta masih banyak bunyi-bunyian burung yang menjadikan Buret menjadi tempat yang asyik untuk wisatawan. 


End of content

No more pages to load