Salah satu pengunjung lapas saat dicek dahaknya untuk mengetahui  tertular TB atau tidak. (foto:  Joko Pramono/Jatim Times)

Salah satu pengunjung lapas saat dicek dahaknya untuk mengetahui tertular TB atau tidak. (foto: Joko Pramono/Jatim Times)



Kecamatan Kedungwaru dan Ngunut menjadi wilayah yang paling rawan penyebaran tuberkulosis (TB) di Kabupaten Tulungagung.

Hal itu berdasarkan jumlah temuan kader TB Aisyiah Tulungagung. "Jumlah temuan (TB) di dua kecamatan ini paling tinggi, yaitu Kecamatan Kedungwaru dan Ngunut," ujar Koordinator SSR TB dan HIV Aisyiah Tulungagung, Cut Mala Hayati. 

Banyaknya tempat kos yang berdempetan di kedua wilayah itu menjadi salah satu biang tingginya penularan TB.  Tempat kos yang berdempetan membuat ventilasi udara terbatas sehingga sirkulasi udara menjadi buruk. 

Selain itu, ada kesamaan antara wilayah Kedungwaru dan Ngunut. Di dua kecamatan itu, terdapat eks lokalisasi. Seperti diketahui penyebaran HIV di lokalisasi cukup tinggi. "Penyakit TB erat dengan HIV," tuturnya. 
Bahkan penderita TB diwajibkan untuk tes HIV. 

Penyakit TB biasanya ditandai dengan  batuk-batuk tapi tak kunjung sembuh.  Penyakit menular ini merupakan infeksi serius yang memengaruhi paru-paru seseorang. 

Jika TB tak diobati hingga tuntas, bisa berakibat fatal. Bahkan, TB  bisa mengancam jiwa.

Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Didik Eka menjelaskan penyakit TB dapat menyebabkan gejala umum seperti batuk yang berlangsung dua minggu atau lebih dan batuk berdarah. 

Gejala lain yang biasa muncul dari tuberkulosis antara lain mudah lelah, penurunan berat badan drastis, kehilangan nafsu makan, menggigil, demam dan juga berkeringat di malam hari.  "Nah jika ada gejala tersebut, lebih baik diperiksakan ke faskes pemerintah maupun swasta," kata dia.

Pria berkumis ini menjelaskan, angka temuan awal ini meningkat jika dibandingkan dua bulan awal tahun 2018, sebanyak 173 pasien. Berdasarkan persentase jumlah penduduk, tahun 2018 incident rate atau angka kesakitan secara nasional sebanyak 2.089 orang.

Namun Dinkes hanya berhasil menemukan 1.216 pasien. Sedangkan tahun 2019 ini incident rate yang ditetapkan sebanyak 2.104 pasien.

"Kami masih terkendala stigma bahwa TB itu penyakit memalukan. Banyak pasien berusaha menyembunyikan diri. Akibatnya angka yang ditemukan di bawah incident rate," kata Didik.

Menurut dia, TB bisa disembuhkan  asalkan penderita minum obat sesuai anjuran. Namun ada saja penderita yang enggan minum obat atau berhenti minum obat di tengah jalan. Akibatnya, ada resistensi (penguatan bakteri) lantaran tidak tuntasnya pengobatan. "Kesembuhan TB masih 85 persen dan 90 persen yang ditargetkan," katanya. 

Selain itu, pihaknya sering menyosialisasikan kepada masyarakat umum terkait penularan TB ini. Keberhasilan temuan yang telah dilakukan itu juga didukung oleh regulasi pemerintah daerah Kabupaten Tulungagung yang telah membuat RAD dan ranperda terkait pencegahan TB yang saat ini sedang di bahas oleh pansus. 

"Penyakit ini harus dituntaskan oleh semua pihak, tidak hanya dari pihak kesehatan, tapi juga stakeholder serta kesadaran berperilaku dan juga kesehatan masyarakat sendiri. Sehingga bisa meminimalisasi TB ini," tandasnya.


End of content

No more pages to load